Kiprah para ilmuwan Muslim terdahulu telah membuat sejarah peradaban dunia mencapai puncak kejayaan. Hasil pemikiran yang mereka torehkan di zamannya, telah membuka khazanah ilmu pengetahuan berkembang pesat seperti saat ini.

Ulama terdahulu tidak saja menguasai bidang keilmuan keagamaan tapi juga menguasai bidang-bidang lainnya, seperti kesehatan. Tidak sedikit dari para ulama yang mengkombinasikan keilmuannya dengan keilmuan kesehatan. Sebut saja Ibnu Sina. Ia tidak hanya dikenal sebagai filosof namun juga seorang dokter handal.

Menurut Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial (BIG) Fahmi Amhar, fenomena ulama multi talenta di masa lalu adalah sesuatu yang biasa. “Ulama-ulama kita terdahulu sudah biasa memiliki beragam keahlian. Seperti Ibnu Sina yang ahli filsafat, juga ahli dalam bidang kedokteran. Masih banyak tokoh lainnya,” ungkapnya.

Majunya ilmu kedokteran saat ini, tak bisa dilepas dari kiprah para ilmuwan Muslim masa lalu. Merekalah yang telah membangun dasar-dasar bagi berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Namun sayang, sejarah perkembangan sains dan ilmu pengetahuan diambil alih dan diklaim sebagai jasa-jasa orang Barat. Padahal faktanya kemajuan Barat tidak lepas dari ketekunan mereka mendalami karya-karya ilmuwan Islam sebelumnya.


Menurut M Yusuf Abdurrahman dalam bukunya, CaraCara Belajar IlmuwanIlmuwan Muslim Pencetus SainsSain Canggih Modern, dipaparkan bahwa saat Barat masih di masa gelap, dunia Islam sudah jauh berkembang. Tetapi, sejarah mengubur mereka hidup-hidup, sehingga kita lebih akrab dengan nama-nama seperti Galileo, Da Vinci, Newton ketimbang nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu Haitam, Ibnu Rusyd, Abu Wafa, ar-Razi, al-Biruni, dan lain sebagainya.

Ada banyak penemuan yang diklaim milik Barat. Namun bila ditelisik lebih dalam, semua itu merupakan hasil ilmuwan-ilmuwan Muslim. Meskipun akhir-akhir ini banyak penulis Barat yang mulai menyadari fakta sejarah. Masa-masa itu oleh Michael Hamilton Morgan dikatakan sebagai “sejarah yang hilang”, bahkan Jack Goody menyebutnya “pencurian sejarah”.

Untuk mengenal ilmuwan Muslim di bidang kesehatan, ada baiknya membaca beberapa profil ilmuwan Muslim yang memiliki kepakaran di bidang kesehatan. Berikut profil tokoh Muslim di bidang kedokteran.

 

Ibnu Sina, ensiklopedi ilmu kedokteran

Ibnu Sina dikenal tidak saja menguasai ilmu filsafat, tapi juga kedokteran. Tidak dapat dipungkiri, bahwa karyanya yang monumental, alQanun fi athThibb, telah menjadi rujukan kajian-kajian tentang kedokteran di seluruh dunia. Termasuk di Barat yang mengenal tokoh ini dengan sebutan Avicena.

Menurut as-Sirjani, Ibnu sina merupakan gudangnya ilmu kedokteran. Hal ini tidak lepas dari luasnya pembahasan kedokteran yang tidak saja membahas persoalan-persoalan medis dalam mendiagnosa penyakit, namun pendekatan ruhaniahnya menjadi keunggulan tersendiri dalam karya-kayanya.

Salah satu pembahasan dalam alQanun fi athThibb mengangkat penyebab-penyebab timbulnya kesehatan dan penyakit. Menariknya, penyebab-penyebab yang disebutkannya, jika di lihat dengan perkembangan ilmu kedokteran dewasa ini, dilakukan dengan cara yang islami. Di antaranya penyebab-penyebab yang berasal dari materi, paling dekat adalah ruh dan jasad, kemudian percampuran antara ruh dan jasad, dan yang paling jauh adalah energi.

Penyebab lain, di antaranya, penyebab yang ditimbulkan oleh faktor perorangan. Penyebab ini bersifat dinamis karena selalu berubah-ubah. Kemudian penyebab rekayasa, yang dimaksudkan untuk merekayasa hasil sebuah pekerjaan dalam konteks rekayasa pengobatan. Dan yang terakhir, penyebab penyempurna, seperti energi atau kekuatan jasad bukan sesuatu yang mustahil, pengertian tentang ruh pendorong energi.

Buku alQanun fi athThibb kemudian diterjemahkan oleh para ilmuwan Barat dengan nama Canon of Medicina. Konon, semenjak saat itu, karyanya menjadi rujuan utama dalam materi-materi bidang kedokteran. Ibnu Sina wafat pada tahun 1037 Masehi.

 

Ibnu Baithar, ahli pengobatan herbal

Nama lengkapnya, Muhammad Dhiyauddin Abdullah bin ahmad al-Malaqi. Lahir di Andalus di akhir abad 6 Hijriyah dan wafat di Damaskus 1248 H. Orang tuanya adalah seorang baithar atau dokter hewan, sehingga ia dijuluki Ibnu Baithar.

Dalam buku Qishshatul Ulum athThibbiyah fil Hadharah alIslamiyah karya Dr Raghib as-Sirjani, disebutkan bahwa Ibnu Baithar merupakan ulama tersohor dalam pengobatan herbal. Ketertarikannya terhadap herbal telah ditunjukkannya senjak kecil. Ibnu Baithar sangat menyukai dunia flora dan fauna, sehingga ia sangat bersemangat mempelajari keanekaragaman nabati dan hewani dan menjadikan hutan sebagai sekolah pertamanya tentang dunia flora. Ia juga berguru kepada Ibnul Faraj, seorang ilmuwan terkenal di bidang ilmu tumbuh-tumbuhan.

Dalam sejarah Islam, pengobatan herbal yang dikembangkan Ibnu Baithar, pada dasarnya juga berkaitan langsung dengan ilmu-ilmu pengobatan lainnya, seperti pengobatan penyakit yang ditimbulkan oleh parasit (parasitologi). Penyakit yang disebabkan parasit, seperti cacingan, dalam bahasa Arab dinamakan adDidan. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan menggunakan tanaman herbal seperti asShiu (semacam tanaman yang memilki wangi yang khas yang tumbuh di Arab), Turmus (tanaman yang memiliki bunga besar berwana ungu dan memiliki batang yang kuat, buahnya pahit yang dimakan setelah di rebus dengan air), bawang putih, daun buah persik, biji seledri, kulit buah rum, ditambah anjuran untuk rajin bergerak serta berolahraga dengan rutin.

 

Ammar al-Mawsuli, ahli pengobatan mata

Abu al-Qasim ‘Ammar bin Ali al- Mawsuli atau lebih dikenal dengan ‘Ammar al-Mawsuli lahir di kota al-Mawsul. Disebutkan bahwa al- Mawsuli bertemu banyak tokoh besar di kota kelahirannya.

al-Mawsuli adalah seorang dokter mata yang kesohor di zaman Daulah Fatimiyyah di Mesir. Tapi ia bukanlah ilmuwan Muslim pertama yang memiliki keahlian dalam pengobatan mata. Sebelumnya ada Ibnu Kahhal, yang dalam sejarah disebut sebagai ahli pengobatan mata pertama dalam peradaban Islam.

Meski bukan orang pertama di bidangnya, tapi al-Mawsuli mampu memenuhi kriteria untuk menjadi dokter mata yang ditetapkan oleh Ibnu Kahhal. Karenanya, Ibnu Abi Ushaibi’ah menyebutnya sebagai seorang ahli pengobatan mata terkenal dan dokter terkemuka yang memiliki pengetahuan dalam pengobatan segala macam penyakit mata. Di samping itu, al-Mawsuli juga menjadi dokter mata termuda yang mampu menguasai kriteria Ibnu Kahhal dalam pengobatan mata.

Kelebihan al-Mawsuli bila disbanding ahli-ahli kedokteran seblumnya adalah ketekunannya untuk melakukan berbagai macam eksperimen mengenai pengobatan mata. Sehingga, ia tercatat memiliki laboratorium untuk mengobati pasien. Dengan begitu al-Mawsuli memiliki peran penting dalam pengembangan keilmuan kedokteran, khsuusnya kedokteran mata, setidaknya hingga abad ke-18 di banyak perguruan tinggi di Eropa.

Salah satu karya al-Mawsuli yang berjudul alMuntakhab Fi ‘Ilmil ‘Aini Wa ‘Ilalaha Wa Mudawatiha Bil Adwiyati Wal Adid menjadi rujukan utama pengobatan mata pada masa itu. Konon buku tersebut ditulisnya atas permintaan al-Hakim bi Amrillah, pemimpin Daulah Fatimiyyah saat itu. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Daud Hermanus

 

Daud al-Anthaki, ahli pengobatan rakhitis

Dawud bin Umar al-Anthaki lahir pada tahun 942 di Far`ah. Dalam khazanah Islam, ia dikenal sebagai dokter yang buta. Kekurangannya itu tidak membuat al-Anthaki menjadi lemah. Namun sebaliknya, malah mendorongnya untuk menjadi seorang ilmuwan di bidang kedokteran yang disegani di masanya. Barangkali karena itulah ia dijuluki al-Bashir, karena meski buta tapi dengan keluasan ilmunya, ia melebihi orang yang melek dengan memberi manfaat kepada orang banyak.

Al-Anthaki menguasi bidang keilmuan kedokteran dan sastra. Selain itu, ia hafal al-Qur’an, mampu membaca dan menguasai ilmu logika, matematika, beberapa hal tentang ilmu alam, serta menguasai ilmu bahasa Yunani dan menggunakannya.

Namanya semakin melambung setelah berhasil mengobati penyakit rakhitis, sebuah penyakit dimana penderita mengalami pelunakan dan pelemahan tulang. Biasanya penyakit ini disebabkan oleh kekurangan vitamin D yang sering menjangkiti anak-anak. Dalam kasus penderita rakhtis ini, al-Anthak membuat semacam minyak yang dioleskan ke kaki si penderita dari mulai lutut hingga telapak kaki untuk kemudian di jemur di bawah terik matahari. Pengobatan dengan cara ini dilakuan berkali-kali hingga pulih.

 

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ahli penyakit hati dan jasmani

Bernama lengkap Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub al-Dimasyqi, Ibnul Qayyim lahir di Damaskus pada tahun 1292 Hijriyah. Dia adalah seorang ulama dengan segudang kepakaran, cendekiawan, ahli fiqh, ahli filsafat dan ahli kedokteran.

Dalam karyanya yang berjudul athThibb anNabawi (Praktik Pengobatan Nabi), Ibnul Qayyim menjelaskan beberapa klasifikasi penyakit. Menurutnya ada dua penyakit yang sering kali dialami manusia, yaitu penyakit hati dan penyakit jasmani.

Penyakit jasmani, disebut Ibnul Qayyim, dapat diobati melalui dua metode, yaitu dengan pengobatan yang telah diilhamkan Allah kepada manusia dan binatang atau yang bersifat alami, dan dapat juga denga cara analisa dan diagnosa.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW telah memberikan petunjuk untuk mengobati diri sendiri yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang sehat non-kimiawi dan menganjurkan agar terus berdoa untuk kesembuhan penyakitnya. Karena seorang penderita penyakit perlu memiliki keyakinan bahwa tidak ada penyakit kecuali ada obatnya, dan yang menyembuhkannya hanyalah Allah SWT.

 

Ar-Razi, Bapak kedokteran Islam

Ar-Razi atau Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi lahir pada tahun 846 di Rayy, dekat Teheran, Iran. Di Barat, ia dikenal dengan sebutan Razhes. Ia juga sering dijuluki sebagai Galen-nya Arab. Galen adalah seorang dokter dan filosof Yunani yang sangat terkenal.

Ar-Razi mencurahkan segenap pikirannya untuk bidang kesehatan, terutama mendiagnosa penyakit cacar. Dalam salah satu karyanya, ar-Razi memberikan informasi tentang smallpox (penyakit cacar). Karena itu, ia dianggap sebagai dokter pertama yang meneliti penyakit cacar.

Ar-Razi juga menulis sejumlah karya. Salah satunya adalah buku tentang alJudari wa alHasbah (Cacar dan Campak). Buku inilah yang memberikan pengetahuan tentang seluk-beluk penyakit cacar kepada para dokter Eropa.

Selain memperkenalkan penyakit cacar, ar-Razi juga melakukan pengobatan khas dengan pemanasan syaraf dan menganggap penting pengobatan penyakit kepala pening. Selain itu, ia juga diduga sebagai dokter pertama yang mendiagnosa penyakit tekanan darah tinggi.

Ar-Razi juga mengungkapkan tentang pengobatan yang pernah dilakukan Nabi yaitu pengobatan kay, yaitu pengobatan serupa akupuntur. Ia memanfaatkan pengetahuannya tentang titik-titik penting pada tubuh manusia untuk pengobatan. Caranya, ia menusuk titik tersebut dengan sebatang besi yang pipih dan runcing, yang sebelumnya telah dipanaskan dengan minyak mawar atau minyak cendana.

Selama hidupnya, ar-Razi mengarang sekitar dua ratus buku ilmiah. Salah satu di antaranya adalah alHawi(Buku Induk) yang terdiri dari 20 jilid. AlHawi pun dianggap sebagai karya terbesar ar-Razi. Buku ini juga dianggap sebagai intisari ilmu Yunani, Syiria, dan Arab. Kurang lebih setengah abad setelah wafatnya, buku terjebut baru ditemukan dua jilid, sebelum akhirnya ditemukan lagi beberapa jilid. Karya ar-Razi tersebut tersimpan di berbagai tempat di Eropa.

Keunggulan karya ar-Razi membuat kalangan istana kekristenan Eropa menaruh simpati. Setelah peristiwa Perang Salib, raja-raja di Eropa memerintahkan agar semua karya ar-Razi diterjemahkan dalam bahasa Latin, yang merupakan bahasa resmi ilmu pengetahuan Eropa pada masa itu.

Buku karya ar-Razi lainnya adalah ensiklopedi kedokteran yang terdiri dari 10 jilid. Jilid ke-9 buku itu diterbitkan bersama alQanun fithThibb karya Ibnu Sina. Hingga abad XVI, buku tersebut masih dijadikan pegangan dasar mahasiswa kedokteran di sejumlah universitas Eropa. Lewat buku tersebut, orang Eropa mulai mengetahui kebesaran nama Ar-Razi, seorang dokter Muslim.

Selain karya di atas, ar-Razi juga menghasilkan beberapa karya, seperti alThibbur Ruhani (Pengobatan Rohani), Sirrul Asrar (Rahasia Segala Rahasia), Nafis fi Hisbah wal Judari (Pengobatan Campak dan Cacar), dan Man la Yahdhuruhu athThabib (Pengobatan Alternatif Ketika Tidak Ada Dokter).

Sirrul Asrar adalah sebuah buku yang berisi sejumlah percobaan kimia yang pernah dilakukan ar- Razi. Sedangkan Man la Yahdhuruhu athThabib adalah sebuah buku pengobatan bagi orang-orang miskin. Dalam buku tersebut, ar- Razi menyarankan jenis pengobatan alternatif, yaitu pengobatan dengan memakai obat-obatan yang berasal dari alam. Setiap tulisan ar-Razi adalah hasil rangkuman sejumlah teori kedokteran yang telah dicoba keabsahan dan kebenarannya lewat eksperimen.

Selain berkarya di buku, Ar-Razi juga menciptakan berbagai jenis obat. Ia berhasil menemukan cara membuat alkohol. Di kemudian hari, penemuan tersebut ditindaklanjuti oleh Arnol Pilinov. Pada abad XIII, alkohol menjadi populer.

Memasuki usia senja, ar- Razi terserang penyakit katarak. Akibatnya, kedua matanya buta. Ketika beberapa teman menganjurkannya untuk mengobati penyakit tersebut, konon Ar-Razi menjawab: “Tidak, aku sudah demikian lama melihat seluruh dunia ini sehingga aku lelah karenanya.”

Ar-Razi wafat pada tahun 925 di kota kelahirannya. Pengabdian dan kejeniusan Ar-Razi diakui dunia Barat hingga kini. Ia pun disebut sebagai tokoh perintis ilmu kedokteran terbesar dari dunia Islam. (Deny/Rozi/MG)